The festive repetitive narrative to simply survive

 

 

Coffee on paper by Anang Dianto


Vincent,

Kita terombang-ambing di bentangan samudera yang entah dari mana bermula dan dimana berujung. Pada perahu penuh yang tidak begitu kokoh namun tidak juga rapuh. Ombak mana lagi yang harus kita terjang, arus tenang apa lagi yang harus kita kenang. Semua memegang teguh kompasnya masing-masing, hingga tidak ada lagi arah yang tersisa. Pasrah ataupun mencoba, langkah kita akan selalu takluk pada arus laut yang juga hanya pasrah mengikuti gravitasi bulan. Sama seperti semua hal yang tak terukur, perjalanan kita tidak pernah bisa ditentukan dengan seberapa jauh.

 

Vincent,

Kita pernah menangis, menjerit, berteriak pada ombak yang menggulung-gulung dan badai yang menghantam. Menambal sedikit demi sedikit lubang agar tidak tenggelam. Berharap cuaca berganti dan arus lebih tenang. Namun ketika keadaan menjadi hening, ternyata suara dari dalam jauh lebih memekakkan. Ada yang berharap pada putaran semesta, ada yang bergantung pada apa yang ada, anehnya dengan ataupun tanpa alasan kita tetap ada dan nyata.

 

Vincent,

Kita disatukan oleh kesendirian yang kolektif. Tidak serupa namun juga tidak sepenuhnya berbeda. Sedikit banyaknya kita memiliki kegelisahan dan keragu-raguan yang sama. Ada yang bahagia, ada yang berduka, ada yang kecewa, ada yang menista, segala bentuk rasa dan peristiwa tidak ada yang benar-benar istimewa. Pada kemudian yang kesekian, kita akan menjadi bayang-bayang yang mungkin bahkan terlalu remang untuk dikenang.

 

 

 

Ekstraksi Gigi Bungsu : Rasa Sakit dan Progres Evolusi Manusia

 

Molar teeth on Panoramic rontgen


 

Melihat beberapa teman-teman yang sudah melakukan operasi gigi bungsu, awalnya saya berpikir bahwa operasi gigi ini sama seperti tindakan medis pada gigi lainnya yang disebabkan oleh pola hidup atau kebersihan mulut yang kurang terjaga. Keadaan-keadaan yang sepenuhnya dapat dicegah. Namun ternyata pengangkatan gigi bungsu ini dilakukan sesederhana karena tidak adanya sisa ruang di rahang yang membuat tumbuhnya gigi tersebut seringkali tidak normal. Hal ini mengakibatkan rasa tidak nyaman ataupun rasa sakit yang intens. Pada umumnya jumlah gigi manusia dewasa ada 32, dengan 4 gigi bungsu terakhir yang muncul ketika menginjak usia dewasa. Tidak semua kemunculan gigi bungsu menuai masalah, beberapa tumbuh normal seperti gigi lainnya. Namun belakangan tindakan pencabutan gigi bungsu (odontektomi) menjadi sangat lumrah dilakukan.

Beberapa saintis meyakini bahwa banyak gigi bungsu yang tumbuh secara tidak normal disebabkan oleh progres evolusi manusia. Seiring berjalanannya waktu, otak manusia berevolusi tumbuh semakin besar, yang mengakibatkan mengecilnya rahang sehingga tidak lagi dapat menampung 32 gigi sepenuhnya. Hal ini yang membuat manusia modern memikili rahang yang lebih kecil dibandingkan dengan manusia purba. Namun beberapa juga berpendapat bahwa hal ini terjadi karena perubahan perilaku makan manusia.  Saintis juga memprediksi bahwa kedepannya progres evolusi ini mengakibatkan gigi bungsu akan hilang sama sekali pada manusia. Seperti hilangnya beberapa fitur pada spesies purba. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya manusia modern saat ini yang gigi bungsunya tidak muncul lengkap ataupun sama sekali.

Sebagai orang awam, melakukan tindakan operasi pengangkatan gigi bungsu dan mengetahui hal tersebut rasanya seperti menjadi saksi langsung dari rentang panjang evolusi manusia. Kita pernah belajar mengenai fosil manusia purba dengan rahangnya yang lebar. Tentang kontroversi hipotesa Darwin terkait evolusi kera menjadi manusia. Tentang bagaimana Homo sapiens menjadi spesies homo satu-satunya yang bertahan hingga saat ini dalam buku Harari. Jutaan tahun lalu dan kita saat ini, terasa begitu jauh namun terhubung benang merah yang sama. Apakah perubahan-perubahan ini akan terus terjadi tanpa batas waktu, ataukah pada jutaan tahun kedepan manusia akan mencapai puncak evolusinya. Imajinasi liar saya membayangkan bahwa dengan bertambahnya masa otak, dan mengecilnya rahang maka bentuk manusia akan seperti potret alien-alien yang sering kita temukan pada buku ataupun film 👽. Itupun masih akan terus berkembang dan bertumbuh. Sedangkan kita akan purba, menjadi bagian dari sejarah.


Pengalaman odontektomi

Berawal dari rasa tidak nyaman pada gigi bawah sebelah kiri, saya mendapati bahwa ujung gigi bungsu saya muncul sedikit dalam posisi menyerong. Akhirnya saya memutuskan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah mulut di RSU Bunda Margonda. Saya dijawalkan dengan drg. Vera Julia, Sp. BM di minggu berikutnya, karena jadwalnya sudah fullbook untuk waktu dekat. Sayapun datang pada waktu yang ditentukan. Setelah melakukan pendaftaran, saya diarahkan ke poli gigi. Sambil menunggu antrian, saya diarahkan suster ke bagian radiologi untuk rontgen panoramic. Proses rontgen panoramic berjalan sangat cepat, tidak sampai 10 menit saya sudah mendapatkan hasilnya. Dengan membawa hasil rontgen tersebut, saya bertemu dengan drg. Vera. Beliau menjelaskan bahwa selain satu gigi bungsu di sebelah kiri bawah, ada 2 gigi bungsu bagian atas yang juga berpotensi sakit di kemudian hari. Sedangkan gigi bungsu bagian kanan bawah saya tidak ada sama sekali (evolution, baby). Total keseluruhan gigi saya ada 31. 28 muncul penuh, 1 gigi mucul separuh, dan 2 gigi di dalam gusi. Drg. Vera menyarankan saya untuk sekaligus mencabut 3 gigi bungsu tersebut dengan metode bius total. Untuk bius total sendiri diharuskan rawat inap di RS selama 1-3 hari dengan estimasi biaya sebesar 50-60 juta. Karena pertimbangan anak yang masih menyusui, akhirnya saya memutuskan untuk mencabut 1 gigi bagian kiri bawah dengan bius lokal yang bisa langsung pulang hari itu juga.

Kebetulan beberapa hari kemudian suami pulang cuti dan mengeluhkan sakit yang sama. Karena sakit yang intens akhirnya diputuskan untuk periksa ke drg yang available dalam waktu dekat. Akhirnya diperiksa di drg. umum RS Permata Cibubur sekaligus rontgen panoramic. Di drg. umum tersebut  diberikan obat pereda nyeri dan tindakan scalling gigi. Kemudian sorenya suami konsultasi ke drg. Vera. Dari hasil rontgen suami terlihat bahwa terdapat gigi bungsu kanan bawah yang posisinya mendorong gigi sebelahnya, sedangkan gigi yang sakit adalah gigi bungsu bagian kiri bawah. Meskipun posisinya sekilas terlihat relatif normal, namun terdapat impaksi gusi sehingga sulit dibersihkan dan rawan terinfeksi bakteri. Drg. Vera pun menjadwalkan operasi odontektomi bersama pada 25 Juli 2022.

Panoramic rontgen suami

Akhirnya kami melakukan operasi odontektomi pada jadwal tersebut. Sebelum operasi, pasien diberi  beberapa obat yang diminum. Obat pereda nyeri, anti inflamasi, dan antibiotik. Kemudian pasien dibaringkan di kursi operasi. Dokter menyuntikkan obat bius, kemudian dilakukan ekstraksi. Jika diperlukan, dokter akan memotong gigi beberapa bagian agar mudah diangkat. Setelah gigi sepenuhnya dicabut, kemudian gusi dijahit untuk menutup luka. Bagian yang paling tidak nyaman menurut saya adalah ketika gigi dipotong. Meskipun tidak terasa sakit, namun suara mesin tersebut membuat saya ngilu. Keseluruhan proses operasi berjalan cepat, hanya sekitar 30 menit saja. Setelah tindakan selesai, pasien diberikan kasa seperti tampon yang harus digigit selama 1-2 jam dan diberikan edukasi pasca operasi. Kami dijadwalkan buka benang jahitan pada minggu berikutnya. Efek pasca operasi berbeda antara saya dan suami ya. Suami mengeluhkan rasa sakit pada bagian operasi, sedangkan saya merasa pusing keleyengan. Setelah tindakan selesai, kami langsung ke kasir dan bagian farmasi untuk mengambali obat. Biaya operasi odontektomi tersebut sebesar 6.4 jutaan per orang yang tercover sepenuhnya oleh asuransi kami. Setelah efek obat bius hilang, muncul rasa sakit di area operasi, namun masih dalam batas wajar. Keluhan yang dirasa hingga saat ini adalah, rasa cenut-cenut di area jahitan, belum bisa membuka mulut secara normal, belum bisa makan secara normal, dan gusi yang sedikit bengkak.

Instruksi pasca operasi


Reference:

Carter, Katherine. 2016. The Evolution of Third Molar Agenesis and Impaction

Dr. Jerry Bergman. 1998. Are Wisdom Teeth (Third Molars) Vestiges of Human Evolution?







A tale of Hidden Valley

 


Pemandangan dari jendela rumah


Perjalanan dimulai pada 30 April 2022 dini hari.

Ditempuh dengan taxi Depok-Soetta ± 60 menit, Soetta - Surabaya ± 60 menit, Surabaya-Makassar ± 90 menit, Makassar-Timika ± 180 menit. Dengan waktu transit ±30 menit di Surabaya dan Makassar untuk pengisian bahan bakar.

Setelah tiba di bandara Mozes Kilangin Timika, kami kemudian diarahkan untuk check in bus menuju Highland. Bus yang digunakan adalah bus modifikasi, sejenis truk yang interiornya diberikan kursi-kursi penumpang lengkap dengan seatbelt. Hampir seluruh bagiannya dilapisi anti peluru, sehingga jendelanya tertutup. Iring-iringan bus dikawal oleh angkatan bersenjata. Perjalanan ditempuh sekitar 3 jam dengan medan yang terjal dan berkelok menyusuri hutan. 

Bus Timika-Tembagapura

Bus tersebut berhenti di area Shopping Family, Tembagapura. Orang-orang dan kendaraan hilir mudik, bangunan-bangunan berdiri kokoh di antara kabut dan suhu dingin, seakan-akan kami tidak sedang berada di tengah-tengah hutan dengan ketinggian ± 2000 Mdpl. Kemudian dengan menggunakan mobil operasional Toyota Land Cruiser 70-Series, kami bergegas menuju tempat yang akan kami tinggali selama disana, yaitu Hidden Valley. Hidden valley merupakan komplek tempat tinggal di ketinggian ± 2600 Mdpl dengan bangunan-bangunan tua yang cantik bergaya Amerika. 

 

Hidden valley dari sebuah sudut

 

Tempat tinggal kami ada di lantai 2 sebuah bangunan. Interiornya mirip dengan apartemen-apartemen di series barat seperti Friends dan The Big Bang Theory. Dapur terbuka dengan area makan dan ruang tamu, 1 kamar utama dengan kamar mandi, 2 kamar dengan kamar mandi sharing, 1 kamar maid dengan kamar mandi, area laundry, dan balkon belakang. Rumah tersebut memiliki fasilitas yang lengkap mulai dari air, listrik, furnitur, dan elektronik seperti pemanas ruangan, pemanas air, mesin laundry, dish washer, dan lainnya. 

Suasana tempat tinggal tersebut sangat nyaman. Dari jendela terlihat jelas langit yang cerah, bayangan-bayangan gunung di kejauhan, air terjun, vegetasi hutan, hilir mudik kendaraan, dan sesekali orang yang jogging. Dinamakan hidden valley karena posisi lembahnya yang landai dan tersebunyi. Jika langit cerah, kita akan disuguhkan warna-warna vibrant dari hijaunya hutan dan biru langit yang mencolok. Namun ketika cuaca berkabut, warna-warna tersebut seperti samar tertutupi lapisan putih yang transparan mengingatkan kita pada lukisan-lukisan Monet yang misty. Dingin namun menghangatkan. Alam di gunung memang selalu luar biasa. Pemandangan yang tidak hanya indah sebatas penglihatan, namun juga entah kenapa terasa perlahan masuk ke dalam jiwa. Keindahan yang bisa membuat orang tanpa sadar meneteskan air mata. Sejauh ini kita berkelana. Di atas gunung, di tengah rimba Papua. Waktu terasa berjalan begitu lambat, meskipun secara literal waktu disana 2 jam lebih cepat dari waktu di pulau Jawa.


Satu

Satu, dua, tiga, dan bilangan selanjutnya yang tak kunjung selesai.

Perlahan dan tanpa sadar rongga-rongga kita sudah dipenuhi kebingungan dan pertanyaan - pertanyaan yang sebelumnya pernah kita serahkan pada masa depan. Sesak.

Manusia terus berjalan dan berkembang dengan cepat dan terburu-buru. Mengindahkan kakinya yang tertatih dan penglihatannya yang kabur. 

Konon katanya agar seimbang, kehidupan harus terus bergerak ke depan.

Karena jika berhenti, kita akan terbentur kesadaran.

Satu.

Dua.

Tiga.

Tidak terjadi apa-apa.

 

 

 


Fitting in. Blending. And the constant failure in searching for meaning.






Hari satu dan hari-hari lainnya.
Kegelisahan satu dan kegelisahan lainnya.
Di sela-sela itu kita melebur atau memilih menjadi minyak di antara air.

Kita tidak benar-benar larut katanya,
sampai seluruhnya berserah ditelan bulat-bulat keadaan.

kita tidak benar-benar hidup katanya,
sampai apa yang kita inginkan memporak-porandakan kita dari dalam.


The nothingness of a very solid presence




Suatu saat ia dibawa terbang oleh pikirannya sendiri.

Jauh meninggalkan dirinya dan kenyataan yang mencoba memeluknya hingga perlahan lepas. Yang ia rasakan detak jarum jam terdengar semakin kencang dengan ritme kacau. Semakin kacau hingga akhirnya meleleh. Mencampuradukkan semua kejadian pada satu garis waktu. Semua peristiwa seperti terjadi bersamaan. Kelahiran-kematian, perang dan perdamaian. Ia merasakan kesedihan yang perih, juga kebahagiaan yang belebihan. Jiwanya seakan terlalu lemah untuk menerima semua kejadian dalam suatu waktu secara bersamaan. Dirinya terlalu penuh. Ia mual menahan berbagai letupan perasaan. Kemudian semuanya membuncah. Ia meledak dan kembali pada garis waktu seharusnya, menjadi debu yang melayang-layang. Semuanya bergulir dengan ringan. Ia sadar pada titik paling rendah dan paling tinggi, baik dari suka maupun luka ia akan selalu menemukan hal yang sama, perasaan kosong yang penuh. 



The Mess of the Masses





Number 8 by Jackson Pollock



Vincent, Life is a mess.

Saya bukan orang yang rapi dan malah cenderung malas untuk beres-beres.
Berkas-berkas, perabotan, dan lain sebagainya saya taruh semauanya, sampai pada suatu titik saya tidak sanggup lagi mengingat apa ada dimana dan akhirnya berjanji pada diri sendiri untuk merapikan itu semua.

Akhirnya saya membereskan semuanya hingga perlahan kekacauan tersebut berkurang, dan begitupun dengan kekacauan di kepala saya.

kemudian hidup saya sedikit menjadi lebih relax.


Vincent, berbeda halnya dengan dunia ini.

Semakin hari semakin bertumpuk, rasanya seperti akumulasi menaruh apapun semaunya seumur hidup. Tidak beraturan. Kacau. Kalut. Semrawut.


It is divinely chaotic.

Tidak bisa dirapikan. Tidak bisa mendikte keadaan sesuai yang kita harapkan. Tidak bisa mengatur milyaran manusia sesuai yang otak kita inginkan.


Vincent, kadang saya merasa kita dikutuk oleh kekacauan isi kepala yang kekal.




Mind's Gravity

Self Choking



Vincent,
segalanya terasa berputar-putar.
warna, bunyi, keadaan, isi kepala, angka, dan rasa.

Seperti semua hal bercampur, diaduk dalam sebuah tabung raksasa.

Vincent,
dunia butuh gravitasi untuk membuat semua hal pada tempatnya.
mencegah kita dari tercerai berai di semesta raya.

demikianpun halnya dengan pikiran kita.

Vincent,
pernahkah kamu kehilangan gravitasi tersebut?

temporary chaos.

semuanya saling berbenturan tanpa arah mengisi setiap ruang hampa di dalam kepala.
memori dan gagasan-gagasan yang sudah lama dikubur dalam-dalam kembali bergentayangan.

kemarin, sekarang, lusa, seminggu atau 10 tahun yang lalu, semuanya terasa sama saja.
Kita berputar. Perhitungan waktu hanya untuk membantu kita dalam menciptakan ilusi.

Sedih, haru, bahagia, marah, kecewa, dan semacamnya. Semua terasa sama saja.
Kita hambar. Emosi hanya membantu kita untuk seolah-olah memahami keadaan.

Vincent,
tiba-tiba kenyataan dan saat ini terasa begitu kecil.




Oh Dear Little Fishes



Koi Fish by Heidi Barnett


Suatu hari saya menghadiri acara kumpul-kumpul dengan teman lama di sebuah rumah makan dengan konsep outdoor. Terdapat gazebo-gazebo dan beberapa kolam ikan yang disusun sehingga terkesan natural (Honestly it's a bit funny for me how people nowdays put so much effort to create something natural). Teman saya telah mereservasi sebuah gazebo dengan view yang strategis bersebelahan dengan salah satu kolam ikan. Mulanya sekilas saya melihat kolam tersebut dengan tidak begitu peduli, kemudian lama-lama saya mengamati kolam tersebut dan mulai terjebak dalam pikiran saya sendiri.

Kolam tersebut sama dengan kebanyakan kolam buatan lainnya. Dibuat senatural mungkin dengan ukuran tidak terlalu besar, dindingnya dibuat tidak beraturan menyerupai batu kali. Di sisi sebelah kiri terdapat sebuah pancuran yang mengalirkan air sehingga menimbulkan percikan yang konstan di kolam tersebut. Ada sekitar berbelas-belas ikan disana. Ikan-ikan tersebut berkerumun di percikan air mancur dengan mulut terbuka seperti sedang berebutan makan. Satu dua ikan lainnya terlihat berenang di sisi kolam yang lebih tenang. Beberapa menit saya mengamati kolam tersebut, ikan-ikan masih tetap dengan mulut terbuka  berebutan di sekitar percikan air. Dan mungkin memang selamanya akan seperti itu. Saya tahu binatang tidak memiliki akal, tapi sebagian besar binatang belajar dari hal yang repetitif. Seperti halnya sewaktu kecil saya pernah diajari jika dikejar anjing jangan lari, tapi lakukan gerakan membungkuk seolah-olah mengambil batu dan melempar kepalan tangan ke arah anjing tersebut. Dan benar saja hal tersebut membuat anjing yang awalnya mengejar menjadi lari tunggang langgang ke arah yang berlawanan. Kemungkinan besar si anjing pernah mengalami kejadian dilempar dengan batu oleh orang sebelumnya, sehingga ia memiliki insting untuk lari menghindar. Dan kenapa ikan-ikan tersebut tetap berebutan makan di percikan air setelah mereka tahu itu sama sekali bukan makanan?

 Tiba-tiba saya ingat dengan diri saya sendiri dan manusia pada umumnya. Percikan air yang dikerubungi itu seperti halnya standar sosial pencapaian kita, harta, jabatan, gelar, pergaulan, citra, dan lain sebagainya. Bagaimana jika ikan-ikan tersebut sebenarnya sama seperti kita, tahu bahwa hal tersebut bukanlah tujuan kita yang sebenarnya. Tapi kita tetap membodohi diri kita dengan berkerumun di percikan air tersebut berebutan mendapatkan makanan yang ternyata air, karena berenang sendirian di sisi yang tenang itu membuat kita berfikir lebih dalam tentang kenyataan. Kita membutuhkan distraksi dari pertanyaan usang dan kebosanan jangka panjang.


Tentu saja terlepas dari semua itu, ikan hanyalah ikan. Berakhir di meja makan.








Tales of Sorrow #4


 The Cracks

source


one afternoon, a girl called a guy.
that morning she read some news about a terrorist attack on the other side of the world.
she couldn't help herself and began to digging out the case .
at the end of the day what left on her head was confusion towards human and the world.
the painful feeling of the victims, the perpetrator's motive behind the madness, and the hatred among people.
everything collided in her mind and she felt nauseous.

 
the first five minutes of the phone call was nothing but a crumbly cry.

what happened? he asked.

unfortunately the girl was never so good at explaining thing, but she tried.
she sobbed out through her tears what was on her head unclearly, bu he understood.

he told her that she didn't help anything by overthinking about it.

no. She's not a kind person. She knew she couldn't help them and she didn't intend to.
she's selfish and hates most people just like she hates herself.

it's just she felt like there were cracks on her mind that made everything could easily slip into.
she's consumed by her own thoughts.

you should keep yourself close to reality, he said.



The Shadow that Won't Stop Follow








N: i'm scared
M: of what?
N: of things i dont quite understand
M: such as?
N: 80% of ocean, 99% of universe, and pretty much 100% of my self.
M: get used to it, my dear. Life is not always meant to be understood.
(..an imagery conversation with myself)


Sewaktu kecil saya punya baju terusan yang panjangnya selutut berwarna merah dengan motif bunga warna warni. Desain bunganya sederhana seperti pada pelajaran dasar menggambar bunga, lingkaran kecil di tengah dan kelopak disekelilingnya. Satu hal yang selalu saya ingat dari baju itu, entah kenapa kelopak pada setiap bunga tersebut terlihat selalu berputar-putar mengelilingi lingkaran tengah. Baik ketika saya memakainya, maupun ketika mama menyetrikanya dan disimpan di lemari. Mungkin kelopak yang berputar-putar itu bagian dari imajinasi saya sendiri. Sekarang baju itu sudah entah kemana, tapi memori tentang kelopak yang selalu beputar-putar itu mengendap dalam ingatan saya. 

Saya orang yang penakut, terlebih ketika masih kecil. Saya mengalami kesulitan untuk tidur sendirian. Suara-suara kecil seperti tetes air, detak jam, angin, menjadi sangat menakutkan dalam imajinasi saya. Sewaktu masuk SD guru IPA pernah menjelaskan bahwa Bunyi berasal dari benda yang bergerak. Kalimat itu yang selalu jadi mantra saya ketika mendengar suara-suara aneh di malam hari. Bunyi berasal dari benda yang bergerak, benda pasti memiliki wujud, selama sesuatu itu berwujud saya bisa menerimanya. Saya takut hal-hal yang tidak logis, hal yang tidak bisa dicerna pikiran manusia.

If you read this my dear future children, it's okay to be afraid. 
but always remember, sound is made by moving object.



TALES OF SORROW #3


The Inevitable Hollow

Kadang saya merasa bahwa hidup saya adalah cerita yang dinarasikan oleh sesuatu yang lain namun masih satu kesatuan dengan diri saya.  Berbeda dengan My name is red-nya Orhan pamuk yang narasikan oleh seonggok mayat, sesuatu tersebut entah bagaimana terasa hidup, kadang lebih hidup dari diri saya yang ini. Tidak semua sosok lahir dari proses biologis. Ada yang berasal dari endapan perasaan yang semakin lama semakin menggumpal kemudian menjadi sesuatu yang hidup, memiliki suara, dan tinggal menginang di suatu tempat di dalam diri kita. Dan untuk tetap hidup dia perlahan memakan kesadaran. 

Dia, yang sunyi namun riuh.


Hello darkness, my old friend
I've come to talk with you again
Because a vision softly creeping
Left its seeds while I was sleeping
And the vision that was planted
In my brain still remains
Within the sound of silence

In restless dreams I walked alone
Narrow streets of cobblestone
'Neath the halo of a street lamp
I turned my collar to the cold and damp
When my eyes were stabbed by the flash of
A neon light that split the night
And touched the sound of silence

And in the naked light I saw
Ten thousand people, maybe more
People talking without speaking
People hearing without listening
People writing songs that voices never share and no one dared
Disturb the sound of silence

Fools said I, you do not know
Silence like a cancer grows
Hear my words that I might teach you
Take my arms that I might reach you
But my words like silent raindrops fell
And echoed in the wells of silence

And the people bowed and prayed
To the neon God they made
And the sign flashed out its warning
In the words that it was forming
And the signs said, 'The words of the prophets
Are written on the subway walls and tenement halls'
And whispered in the sounds of silence


(Sounds of silence - Simon and Garfunkel)

The July Obituaries


When I die
-Rumi

when my coffin
is being taken out
you must never think
i am missing this world

don’t shed any tears
don’t lament or
feel sorry
i’m not falling
into a monster’s abyss

when you see
my corpse is being carried
don’t cry for my leaving
i’m not leaving
i’m arriving at eternal love

when you leave me
in the grave
don’t say goodbye
remember a grave is
only a curtain
for the paradise behind

you’ll only see me
descending into a grave
now watch me rise
how can there be an end
when the sun sets or
the moon goes down

it looks like the end
it seems like a sunset
but in reality it is a dawn
when the grave locks you up
that is when your soul is freed

have you ever seen
a seed fallen to earth
not rise with a new life
why should you doubt the rise
of a seed named human

have you ever seen
a bucket lowered into a well
coming back empty
why lament for a soul
when it can come back
like Joseph from the well

when for the last time
you close your mouth
your words and soul
will belong to the world of
no place no time.

--
3 Obituaries in July. Isn't it weird how sometimes stranger death affected your life in a surprising way?
 



Vincent, it's astonishing how sometimes i see  that sorrow is strangely beautiful.
 It makes me feel empty and fulfilled at the same time.

TALES OF SORROW #2


The Poison of Mind

Le cafe de nuit - Vincent Van Gogh


Aku kecup kau dengan sebuah puisi mungil.
Di suatu pagi, saat matamu masih sayu.
Dan di luar orang-orang berduyun dengan perkara hidup.
Aku dan kau disini, menikmati pagi dengan sebuah puisi.

Aku mengamati setiap kata dari pesan singkat yang tak pernah dihapus sejak 4 tahun silam. Masa lalu tiba-tiba hilir mudik, semua memori seakan muncul memenuhi setiap ruang di kepala saling berbenturan tak terkendali. Untuk kali ini aku membiarkan diriku hanyut ditelan perasaan.

4 tahun lalu, aku bangun tidur dan mendapati puisi tersebut mengisi layar handphone. Aku tersenyum kecil, untuk sejenak merasa terasing dari hingar bingar kehidupan. Berbeda dengan kebanyakan orang lain yang memilih kopi sebagai ritual pagi, aku lebih suka puisi.

 Ah, kopi.
Aku ingat pada senja di sebuah cafe kecil di sudut kota asing yang pernah kita singgahi. Kamu sibuk dengan kopi hitam dan layar HP, aku sibuk mencoret-coret kertas ditemani eskrim stroberi. Sesekali kita mengobrol ringan, memperhatikan kiri kanan atau sekedar menertawakan keadaan.

Ah, mengobrol.
Aku ingat bagaimana dulu kita seringkali mengobrol tentang teori-teori ajaib yang muncul secara tiba-tiba dari kepala kita masing-masing. Tentang bagaimana aku menjelaskan bahwa dengan tidak memiliki rencana berarti menambah porsi keterlibatan Tuhan dalam hidup kita. Tentang bagaimana kau mengajak aku berpikir bergesekan dengan garis yang aku anggap sebagai batas. Tentang hidup yang lebih dari sekedar baik dan buruk. Pada kesadaran tertentu, aku merasa kita adalah racun bagi pikiran masing-masing. Dan untuk pertama kalinya aku merasa senang terkontaminasi.

Di suatu kesempatan, kita menghabiskan senja dengan diam. Menikmati dunia yang perlahan mulai meredup pada sebuah bangku kayu tua menghadap jalan. Kemudian kamu bercerita tentang asal muasal segala sesuatu, tentang hal fiksi yang dikaitkan dengan realitas ataupun sebaliknya, anehnya semuanya terasa masuk akal.

Empat tahun kemudian aku mengingatnya dengan jelas, ketika semua hal yang nyata saat ini terasa samar-samar.

Karena pemberian yang paling kekal adalah pemikiran-pemikiran, meskipun untuk menerimanya kita harus rela teracuni.


Tales of Sorrow #1


The Lunatic Luna

Diluvio de Lagrimas Anhelo by Ryan Swallow

If you wish you could have been normal, i can promise you i do not. The world is an infinitely better place precisely because you weren't. - Imitation Game

Vincent,
Jika menjadi gila adalah tentang berbicara, menangis, serta terbahak-bahak sendiri, bukankah semua dari kita adalah seperti itu dalam benak kita sendiri? Jika menjadi gila adalah tentang telanjang tanpa peduli norma dan etika, bukankah semua dari kita memang terlahir seperti itu, meskipun kemudian tumbuh berkembang membiasakan diri untuk berbusana? Jika menjadi gila adalah tentang berpikir tanpa logika, bukankah sebagian besar dari kita sepakat bahwa logika itu sangat terbatas dan bukanlah alat ukur tertinggi dari pemikiran. Seperti halnya orang-orang beragama yakin bahwa ada hal yang lebih tinggi dan tidak bisa dijelaskan dengan batas tersebut? Jika menjadi gila adalah tentang tidak normal, bukankah normal hanyalah standar tanpa dasar yang jelas? Pada akhirnya, kita semua ini gila dalam definisi yang kita buat sendiri.

Vincent,
Pernahkah kamu percaya pada sesuatu yang absolut? mengapa banyak orang mati-matian mencari cara agar orang lain juga meyakini hal yang sama dengan dirinya? Apakah sebenarnya diam-diam mereka tidak terlalu yakin terhadap apa yang mereka yakini sehingga membutuhkan banyak orang agar membuatnya merasa baik-baik saja? Mengapa banyak orang berdebat dan berusaha menjawab pertanyaan untuk mempertahankan pendapat namun mengabaikan pertanyaan dari diri mereka sendiri? Pada akhirnya, kita semua ini merasa ragu dalam kadar tertentu.

Vincent,
Sejauh mana manusia mampu berdamai dengan luka? ada yang tersakiti, menderita, terluka, dan kemudian memilih meninggalkan semuanya. Bukankah hidup semata-mata pertaruhan tanpa akhir antara logika dan perasaan? Pada kesadaran tertentu kita tahu bahwa hidup kurang lebih adalah berjudi. Memilih salah satu, dan mengorbakan yang lainnya. Kita dihadapkan kepada lebih dari enam mata dadu, kemungkinan terburuknya bukan kalah, tapi terlalu lelah melanjutkan ketika sadar bahwa hidup bukanlah permainan melainkan kita lah yang dipermainkan.

Vincent,
Seberapa banyak yang manusia ketahui tentang semesta? bukankah akan lebih mudah jika semua hal memiliki batas daripada tak terhingga? apakah selama ini kita benar-benar memahami atau hanya berlari-lari melingkar di dalam pikiran kita sendiri? Apakah salah jika kita menerima semuanya begitu saja tanpa mau tahu asal mula? pada akhirnya kita akan berada di satu keadaan dimana semua hal terasa mengerikan, kemudian satu-satunya hal yang dapat kita lakukan adalah melanjutkan hidup dengan melupakan kesadaran.

..............................

Luna membaca ulang kertas yang ditulisnya sesorean, kemudian disobek-sobeknya menjadi serpihan kecil. Perlahan dibukanya jendela kamar, diterbangkannya serpihan-serpihan kertas tadi seperti halnya menabur bunga. Belasungkawa atas pemikiran-pemikiran yang telah ia bunuh.

Immortal Mellow





 
The weeping women - Pablo Picasso

Sore itu seorang gadis berusia belum genap selusin meringkuk di sebuah sudut kamar temaram yang lembab. Wajahnya sama sekali tidak terlihat, tertutup buku yang seharian itu tak pernah lepas dari genggamannya. Kamar persegi panjang yang tidak terlalu luas itu dihuni oleh 6 orang dengan 1 kamar mandi yang dipakai bergantian. Tidak ditemukan dipan di kamar itu, hanya 6 lemari berjejer dan 6 kasur lipat tipis digulung, yang lebarnya jika kita tidur dan berguling ke samping satu kali sudah menyentuh lantai. Samar-samar terdengar isak sesegukan dari gadis di sudut kamar tersebut. Bukan karena gigi susu ketiganya tanggal, bukan karena kasur tipis bergaris yang ditidurinya tiap malam itu membuat punggungnya terasa dibelah-belah, bukan karena tugas hafalan surat yang panjang, dan bukan karena perasaan kecewa terhadap orang tuanya yang tega menempatkannya di tempat itu. Bukan karena itu semua, meskipun semua itu pernah menjadi alasannya menangis di saat lain. Namun, saat itu iya menangis karena salah satu karakter di buku yang iya baca meninggal. Baginya kesedihan itu sangat sederhana, sama seperti halnya kebahagiaan yang sebenarnya hanya ada dalam pikiran.

Gadis itu sangat menyukai cerita dan seringkali terhanyut dalam cerita. Ia pernah mencoba membaca Sayap-sayap Patah karangan Khalil Gibran, namun pada akhirnya menyerah karena tidak mengerti isi dan alur ceritanya. Ia sama sekali tidak paham sastra dan buku mana yang sekiranya bagus untuk dibaca. Perpustakaan sekolahnya tidak besar dan koleksinya pun seadanya, didominasi oleh buku-buku agama dan beberapa novel lama. Tapi dia cukup bahagia mengingat sekolah ia sebelumnya tidak memiliki perpustakaan sama sekali. Dia sering meminjam buku diperpustakaan itu, namun ia bukan orang yang suka berlama-lama disana. Dia sangat suka membaca di kamarnya, dengan pakaian yang nyaman dan posisi seenaknya, serta keheningan. Dia tidak suka cerita fiktifnya terkontaminasi kebisingan realita. Dia membaca apa saja. Dia hafal kisah-kisah nabi di luar kepala. Dia ingat waktu kecil betapa bangganya ia selalu menjawab pertanyaan mengenai kisah-kisah nabi dari guru ngajinya tanpa pernah tertukar satu sama lain. Bagaimana Yunus di perut ikan paus, bagaimana Ibrahim kecil yang mempertanyakan banyak hal, bagaimana Nuh dengan perahunya, Musa yang melawan Firaun, Nabi Luth dan kaumnya. Semua kisah itu hidup dalam kepala gadis tersebut sama seperti kisah-kisah lainnya dari berbagai buku yang ia baca. Perlahan dia tahu bahwa jumlah nabi lebih dari 25, bahwa Firaun itu hanyalah gelar dan bukan nama orang, bahwa yang menghianati Nuh dan Luth adalah keluarga terdekatnya sendiri. Bahwa sedikit sekali ia ketahui tentang hidup ini. Seiiring bergulirnya waktu dia sadar bahwa kisah-kisah tersebut sama sepertinya halnya hidup tidaklah sama dengan apa yang ada di kepalanya waktu kecil. Dan bahwa keyakinan adalah hal yang akan memiliki berjuta alasan untuk kemudian menjadi ragu.

Pada masa-masa ujian, sehabis ashar seluruh anak diwajibkan belajar di luar kamar. Hal ini bertujuan agar semua anak terkontrol oleh pembina. Gadis itu selalu jadi orang pertama yang standby di teras dengan buku biologi besar di tangannya. Spot favoritnya adalah anak tangga. Gadis itu bukanlah penggemar kegiatan belajar, hampir dipastikan 70% isi buku catatannya adalah coret-coretan gambar, dan 80% waktu di kelasnya digunakan untuk memikirkan hal lain. Dibalik buku biologi yang besar itu dia selalu memiliki rahasia kecil, kadang komik jepang, kadang novel yang dipinjamnya dari perpustakaan. Rahasia lainnya adalah, jauh di lubuk hatinya gadis itu sangat benci membaca. Dia sangat ingin sekali membenci membaca. Karena baginya membaca hanya menjawab sebagian kecil pertanyaan dan mendatang sejuta pertanyaan baru lainnya. Membolak-balik emosinya, dan membuatnya memikirkan hal yang seharusnya anak seumurannya tidak pikirkan. Dari bangunan seberang, sepasang mata milik lelaki paruh baya mengintip anak didiknya dari balik kitab. Dia tahu biologi tidak ada di dalam kepala si gadis saat itu.


*Immortal mellow is a song title by Adhitia Sofyan

Mengintip Pantai Cantik di Barat Pulau Jawa





A journey is best measured by friends rather than miles :) -Tim Cahill
Kalau selama ini wisata pantai di Banten terkenal standar dan gak jauh-jauh dari Anyer, carita, dan karang bolong, coba deh sempetin sebentar intip dan liat ada apa di ujung barat pulau Jawa. Tanggal 31 Juli kemarin, saya dan teman-teman berkesempatan mencicipi lezatnya salah satu pulau di barat pulau Jawa: Pulau Oar (bukan lagu Katy Perry). Pulau merupakan salah satu destinasi wisata favorit saya, karena disana hanya ada laut lepas, dan kita yang berdiri di porsi kecil daratan. Pulau Oar sendiri merupakan pulau kecil tak berpenghuni yang terletak bersebelahan dengan pulau Umang. Berbeda dengan pulau Umang yang dibangun resort dan fasilitas wisata lainnya, pulau Oar sengaja dibiarkan alami. Hal yang menjadi daya tarik dari pulau Oar adalah hamparan pantainya yang indah, biota lautnya yang masih asri, dan tentu saja budget yang dibutuhkan lebih minim daripada ke pulau Umang (elus-elus dompet). Untuk menuju pulau Oar ada beberapa rute yang bisa ditempuh, yaitu:
Rute pertama: Tol kebun jeruk, Merak, Serang, Pandeglang, Menes, Labuan, Tarogong, Citeureup, Cigeulis, Cimanggu, Cibaliung, Cimanggu, Desa Sumur
Alternatif lain: Tol kebun jeruk, Merak, Cilegon, Anyer, Carita, Labuan, Tarogong, Citeureup, Cigeulis, Cimanggu, Cibaliung, Cimanggu, Desa Sumur
(Bagi yang menggunakan kendaraan umum bisa menggunakan bis Kali deres-Labuan atau Kampung rambutan-Merak, turun di Serang. Naik mini bis (elf) jurusan Serang-Sumur. Atau turun di Labuan kemudian naik yang jurusan Sumur juga)

Suatu Masa di Bulan Ramadhan



source


Suatu masa di bulan ramadhan, saya ingat bagaimana dulu waktu kecil pernah merengek rengek kelaparan padahal belum setengah haripun terlewati. Bagaimana mama dengan kesalnya menyuruh berbuka, namun saya menolak dan sanggup menahan lapar hingga adzan magrib tiba meskipun dengan terus merengek-rengek kelaparan seharian. Dari situ saya belajar, bahwa saya lebih kuat dari yang saya sendiri pikirkan.

 Suatu masa di bulan ramadhan, pernah terjadi gempa di tengah malam dan semua orang kampung berhamburan keluar rumah. Jalan-jalan dipenuhi orang-orang ketakutan dan terus berdzikir. Saya dan adik yang sedang tertidur pulas, ditarik-tarik keluar rumah oleh mama menuju kerumunan. Perasaan ngantuk, kaget, dan ketakutan menjadi satu. Dari situ saya belajar bahwa hidup penuh dengan hal yang tiba-tiba, dan untuk itu saya harus selalu siap atas apapun yang akan terjadi.

Suatu masa di bulan ramadhan, saya teringat bagaimana dulu setiap ramadhan tiba hampir selalu bertetapatan dengan musim rambutan. Saya, sepupu dan beberapa teman menghabiskan waktu tiap harinya dengan memunguti rambutan-rambutan tetangga yang lebih dulu berbuah dari rambutan kami sendiri. Malamnya setelah tarawih, kami makan bersama-sama hasil pungutan rambutan tersebut. Tidak ada yang istimewa, tapi perasaan bahagia yang saya rasakan waktu itu masih saya ingat sampai sekarang. Dari situ saya belajar bahwa, jika dari hidup ini yang kita cari adalah kebahagian, maka hal yang kita perlu lakukan bukan bagaimana melihat  keluar namun ke dalam diri kita sendiri.
 
Suatu masa di bulan ramadhan, saya sama sekali tidak pulang hingga lebaran. Pertama kalinya tidak merasakan sahur pertama masakan mama, pertama kalinya lebaran jauh dari keluarga, pertama kalinya puasa di negeri orang. Dari situ saya belajar untuk lebih berani, untuk percaya bahwa masih banyak orang-orang baik di dunia ini, untuk sadar bahwa masih banyak hal yang harus dipelajari
 
Suatu masa di bulan ramadhan, tetiba masa lalu hilir mudik dengan bebasnya di dalam kepala. Tak terasa banyak hal yang telah hilang dan datang begitu saja. Perlahan pertanyaan-pertanyaan masa kecil saya beberapa mulai terjawab, beberapa mulai berhenti dipertanyakan, dan beberapa masih mengendap dalam kepala.
 
Isn't it funny how day by day nothing changes, but when you look back everything is different?
(C.S-Lewis)
 

Setelah semua ini, lantas apa?



At Eternity's Gate. By Vincent Van Gogh

"Saya sering terlibat dengan percakapan tiba-tiba tentang mempertanyakan kehidupan. Banyak yang pada akhirnya berujung pada subjektifitas masing-masing individu, entah antara lelah akan perdebatan tanpa akhir atau memang pada akhirnya sadar hal tersebut tidak perlu dipertanyakan. Entah, manusia sekarang terlalu pintar untuk menerima begitu saja segala sesuatu. Kita menggantungkan keyakinan pada pertanyaan-pertanyaan dan membiarkan siapa saja menjawab. Pada akhirnya saya sadar hidup jauh menjadi lebih mudah tanpa banyak pertanyaan."

 Kira-kira begitulah yang tertulis di buku catatan saya beberapa minggu yang lalu setelah terlibat sebuah percakapan dengan seorang teman. Mungkin saat ini saya sedang berada pada sebuah fase dimana lelah dengan mempertanyakan dan dipertanyakan. Karena menurut saya tidak ada jawaban yang pasti sebelum semuanya benar-benar berakhir, berakhir dalam arti yang sebenarnya.

Belakangan ini saya dihadapkan dengan dua kematian teman, dan beberapa masalah, disini saya tidak mencoba mengklaim bahwa saya adalah orang dengan masalah terbanyak di dunia, atau meminta simpati siapapun. Saya akui beberapa kejadian belakangan ini mempengaruhi saya secara emosional, dan beberapa tetap mengendap kemudian lalu lalang dalam kepala.

Kematian?
Ya, kematian. Entah, bagi saya kematian adalah makna sebenarnya dari "sendiri". Kesendirian yang absolut. Dimana tidak ada hal lain yang terlibat selain diri kita sendiri.
Saya sering sekali terjebak dalam pikiran saya sendiri mengenai kematian, ada perasaan ketakutan yang aneh tiba-tiba menyergap. Gelap, dingin, dan terasingkan. Entah bagian mana yang paling menakutkan.
Sejak kecil saya sangat takut gelap.
Bukan gelap yang temaram, tapi gelap yang benar-benar gelap. Gelap total.
Dulu, saya sering terbangun pada malam hari ketika listrik mati. Gelap total. Tak ada yang bisa dilihat, bahkan bagian tubuh kita sendiri. Saya mengalami apa yang namanya disorientasi waktu dan tempat. Biasanya saya hanya menangis, sampai mama bangun dan menyalakan lilin. Hal itupun berlanjut hingga SMA. Belakangan saya sadar, hal yang sebenarnya saya takutkan bukanlah gelap itu sendiri tapi ketidakmampuan diri saya menjawab dimana dan kapan.
Belakangan saya sangat bersyukur tidak pernah mengalami hal itu lagi, karena seiring bergulirnya waktu dunia menjadi semakin terang, bahkan menjadi terlalu silau. Saya tidak pernah menemui gelap total selain dalam pikiran saya sendiri.

Dan entah mengapa ketika memikirkan kematian, kepala saya langsung dipenuhi perasaan menakutkan tentang gelap. Saya sering membayangkan bagaimana jika ini adalah hari terakhir saya, saya kemudian membuat catatan-catatan password semua akun media sosial saya, menghapus foto-foto aib di HP saya, dan menyetting agar HP saya bebas password agar teman saya bisa memahami apa yang saya pikirkan sebelum saya mati. Entahlah saya merasa konyol sendiri, menyadari bahkan di akhir hayat saya masih memikirkan image. Saya sadar banyak hal yang seharusnya saya lakukan, saya tidak lakukan, dan seharusnya saya tidak lakukan malah saya lakukan. Semua hal harus dipertanggung jawabkan, dan memikirkan itu semua membuat saya merasa tidak siap untuk menghadapinya.

Hidup itu penuh dengan kontradiktif.
Saya tidak terlalu menyukai kehidupan tapi bukan berarti menyukai kematian.
Saya menyukai sunyi, tapi bukan juga berarti menyukai kematian.
Meskipun saya sepenuhnya paham, kematian adalah hal yang pasti dan tidak bisa kita prediksi.
Dan mungkin saya tidak benar-benar membenci kematian. Saya hanya takut akan hal yang saya tidak ketahui, apa yang akan terjadi nanti, dan keyakinan siapakah yang pada akhirnya benar?

Dan dua teman yang meninggalkan saya terlebih dahulu, saya yakin Allah tahu kalian lebih siap menghapi kematian daripada saya.  Kadang juga terlintas "kenapa harus mereka?" orang-orang yang saya kenal dekat dan memiliki mimpi besar akan masa depan. Dan kemudian saya berpikir ulang, tidak ada masa depan yang benar-benar pasti selain kematian, dan hidup adalah tentang akhir. Akhir dalam makna yang sebenarnya.
Life is called life because it's limit, right?

Dan setelah semua ini, lantas apa?

Kita adalah diri kita sendiri, meskipun pada perjalanannya bergesekan dengan garis hidup banyak orang. Hidup adalah tentang meninggalkan atau ditinggalkan, dan seperti yang saya bilang diawal, tidak ada yang benar-benar terjawab sebelum semuanya berakhir.

Dedicated to: Ratih Rahmawati dan Lia Reni Utami. Saya bersyukur bergesekan dengan garis hidup kalian.



mentarinadya. Powered by Blogger.