The Mess of the Masses





Number 8 by Jackson Pollock



Vincent, Life is a mess.

Saya bukan orang yang rapi dan malah cenderung malas untuk beres-beres.
Berkas-berkas, perabotan, dan lain sebagainya saya taruh semauanya, sampai pada suatu titik saya tidak sanggup lagi mengingat apa ada dimana dan akhirnya berjanji pada diri sendiri untuk merapikan itu semua.

Akhirnya saya membereskan semuanya hingga perlahan kekacauan tersebut berkurang, dan begitupun dengan kekacauan di kepala saya.

kemudian hidup saya sedikit menjadi lebih relax.


Vincent, berbeda halnya dengan dunia ini.

Semakin hari semakin bertumpuk, rasanya seperti akumulasi menaruh apapun semaunya seumur hidup. Tidak beraturan. Kacau. Kalut. Semrawut.


It is divinely chaotic.

Tidak bisa dirapikan. Tidak bisa mendikte keadaan sesuai yang kita harapkan. Tidak bisa mengatur milyaran manusia sesuai yang otak kita inginkan.


Vincent, kadang saya merasa kita dikutuk oleh kekacauan isi kepala yang kekal.




Mind's Gravity

Self Choking



Vincent,
segalanya terasa berputar-putar.
warna, bunyi, keadaan, isi kepala, angka, dan rasa.

Seperti semua hal bercampur, diaduk dalam sebuah tabung raksasa.

Vincent,
dunia butuh gravitasi untuk membuat semua hal pada tempatnya.
mencegah kita dari tercerai berai di semesta raya.

demikianpun halnya dengan pikiran kita.

Vincent,
pernahkah kamu kehilangan gravitasi tersebut?

temporary chaos.

semuanya saling berbenturan tanpa arah mengisi setiap ruang hampa di dalam kepala.
memori dan gagasan-gagasan yang sudah lama dikubur dalam-dalam kembali bergentayangan.

kemarin, sekarang, lusa, seminggu atau 10 tahun yang lalu, semuanya terasa sama saja.
Kita berputar. Perhitungan waktu hanya untuk membantu kita dalam menciptakan ilusi.

Sedih, haru, bahagia, marah, kecewa, dan semacamnya. Semua terasa sama saja.
Kita hambar. Emosi hanya membantu kita untuk seolah-olah memahami keadaan.

Vincent,
tiba-tiba kenyataan dan saat ini terasa begitu kecil.




Oh Dear Little Fishes



Koi Fish by Heidi Barnett


Suatu hari saya menghadiri acara kumpul-kumpul dengan teman lama di sebuah rumah makan dengan konsep outdoor. Terdapat gazebo-gazebo dan beberapa kolam ikan yang disusun sehingga terkesan natural (Honestly it's a bit funny for me how people nowdays put so much effort to create something natural). Teman saya telah mereservasi sebuah gazebo dengan view yang strategis bersebelahan dengan salah satu kolam ikan. Mulanya sekilas saya melihat kolam tersebut dengan tidak begitu peduli, kemudian lama-lama saya mengamati kolam tersebut dan mulai terjebak dalam pikiran saya sendiri.

Kolam tersebut sama dengan kebanyakan kolam buatan lainnya. Dibuat senatural mungkin dengan ukuran tidak terlalu besar, dindingnya dibuat tidak beraturan menyerupai batu kali. Di sisi sebelah kiri terdapat sebuah pancuran yang mengalirkan air sehingga menimbulkan percikan yang konstan di kolam tersebut. Ada sekitar berbelas-belas ikan disana. Ikan-ikan tersebut berkerumun di percikan air mancur dengan mulut terbuka seperti sedang berebutan makan. Satu dua ikan lainnya terlihat berenang di sisi kolam yang lebih tenang. Beberapa menit saya mengamati kolam tersebut, ikan-ikan masih tetap dengan mulut terbuka  berebutan di sekitar percikan air. Dan mungkin memang selamanya akan seperti itu. Saya tahu binatang tidak memiliki akal, tapi sebagian besar binatang belajar dari hal yang repetitif. Seperti halnya sewaktu kecil saya pernah diajari jika dikejar anjing jangan lari, tapi lakukan gerakan membungkuk seolah-olah mengambil batu dan melempar kepalan tangan ke arah anjing tersebut. Dan benar saja hal tersebut membuat anjing yang awalnya mengejar menjadi lari tunggang langgang ke arah yang berlawanan. Kemungkinan besar si anjing pernah mengalami kejadian dilempar dengan batu oleh orang sebelumnya, sehingga ia memiliki insting untuk lari menghindar. Dan kenapa ikan-ikan tersebut tetap berebutan makan di percikan air setelah mereka tahu itu sama sekali bukan makanan?

 Tiba-tiba saya ingat dengan diri saya sendiri dan manusia pada umumnya. Percikan air yang dikerubungi itu seperti halnya standar sosial pencapaian kita, harta, jabatan, gelar, pergaulan, citra, dan lain sebagainya. Bagaimana jika ikan-ikan tersebut sebenarnya sama seperti kita, tahu bahwa hal tersebut bukanlah tujuan kita yang sebenarnya. Tapi kita tetap membodohi diri kita dengan berkerumun di percikan air tersebut berebutan mendapatkan makanan yang ternyata air, karena berenang sendirian di sisi yang tenang itu membuat kita berfikir lebih dalam tentang kenyataan. Kita membutuhkan distraksi dari pertanyaan usang dan kebosanan jangka panjang.


Tentu saja terlepas dari semua itu, ikan hanyalah ikan. Berakhir di meja makan.








mentarinadya. Powered by Blogger.